Pesan ini disampaikan Abu Rokhmad, saat menutup Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Bimas Islam 2026 di Jakarta, Jumat (23/1/2026). “Kalau di kanan dan kiri kita masih ada masyarakat yang belum bisa membaca Al-Qur’an atau belum bisa melaksanakan salat dengan benar, maka itu menjadi tanggung jawab kita semua,” ujarnya.
Abu Rokhmad juga menegaskan, Bimas Islam harus meninggalkan pola kegiatan sekali jalan. Seluruh layanan umat diarahkan pada pendekatan jangka panjang yang berorientasi pada dampak dan keberlanjutan. “Jangan hanya satu kegiatan lalu selesai. Pelayanan umat harus berkelanjutan dan benar-benar terasa manfaatnya oleh masyarakat,” tambahnya.
Rakernas menghasilkan sejumlah rekomendasi dan program kerja yang bersifat mengikat dan wajib ditindaklanjuti secara konkret. Abu Rokhmad menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dengan berbagai mitra strategis.
“Bimas Islam tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan Majelis Taklim, PP4, DKM, ormas Islam, kampus, dan aktor-aktor strategis lainnya harus diperkuat dan ditindaklanjuti dengan kerja nyata,” tegas Abu Rokhmad.
Menurutnya, keterlibatan mitra tidak boleh berhenti pada dukungan simbolik atau kegiatan seremonial. Seluruh program pelayanan umat harus dirancang dalam skema kemitraan yang berkesinambungan, terukur, dan mampu menghadirkan dampak langsung di tengah masyarakat.
Ia menambahkan, keterbatasan jangkauan struktural Bimas Islam justru harus dijawab dengan memperluas jejaring kerja sama. Dengan kolaborasi yang solid, pelayanan keagamaan dapat menjangkau lebih banyak lapisan umat dan menjawab kebutuhan riil masyarakat.
“Karena ini tugas keulamaan, maka kita berada dalam kerangka fisabilillah. Insya Allah berbagai kerja bersama dengan mitra strategis akan kita lakukan selama 2026,” pungkasnya.
Sumber: Menag RI




