Refleksi dan Inspiratif-Safira: Dari Tulang Rusuk menjadi Cahaya

Bagian Keempat dari Seri Jejak-jejak Safira dan Sang Guru

“Jika Tuhan hadir ke bumi, maka wanitalah penampakannya yang paling halus.”
Lukman S. Thahir

 

Cinta itu bukan hirarki, tetapi Harmoni

Dalam pandangan Islam, penciptaan manusia tidak pernah dimaknai sebagai hierarki, melainkan sebagai harmoni. Ketika Al-Qur’an menyebut bahwa perempuan diciptakan dari *nafsin wāḥidah* — satu jiwa yang sama — ia menegaskan kesetaraan ontologis antara laki-laki dan perempuan. Keduanya adalah refleksi dari tajalli Ilahi, penampakan sifat-sifat Tuhan yang saling melengkapi: al-Qawiyy (Yang Perkasa) dan ar-Raḥīm (Yang Maha Lembut).

Cinta dalam Islam tidak dibangun atas dominasi, tetapi atas keseimbangan dan saling penjagaan. Kata zauj  dalam Al-Qur’an — yang berarti pasangan — menggambarkan dua sisi yang saling menggenapi, bukan meniadakan. Sebagaimana siang membutuhkan malam untuk menegaskan makna terang, demikian pula laki-laki dan perempuan saling menegaskan keberadaan dan kehormatan satu sama lain. Maka, hakikat cinta sejati bukanlah kekuasaan atas yang dicintai, melainkan pengabdian yang saling memuliakan di bawah cahaya rahmat-Nya. Inilah makna terdalam dari firman Allah dalam QS. Ar-Rūm [30]: 21:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawaddah dan raḥmah.”*

🌹 Safira: Dari Tulang Rusuk, Menjadi Cahaya

Senja baru saja turun di ufuk Palu. Langit berwarna jingga keemasan, dan laut beriak lembut — seperti sedang mengulang doa yang sama setiap sore: doa tentang pertemuan dan keseimbangan. Guru duduk di beranda ruang studinya, menatap langit yang perlahan beranjak tua. Di hadapannya, Safira berdiri — matanya berbinar, seolah menyimpan rahasia kecil yang tak bisa diucapkan dengan kata.

“Guru,” katanya perlahan, “mengapa Tuhan menciptakan wanita dari tulang rusuk pria?” Sang guru tersenyum, tidak tergesa menjawab. Ia tahu, pertanyaan itu bukan sekadar ingin tahu. Ia mendengar nada rindu dalam suara muridnya. Rindu akan pemahaman, rindu akan tempatnya di semesta ini.

“Safira,” katanya lembut, “karena tulang rusuklah yang melindungi jantung.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang nyaris berbisik, “Dan Tuhan ingin agar perempuan menjadi pelindung bagi cinta — bukan harta, bukan kuasa, tapi cinta itu sendiri.” Safira menunduk. Air matanya menetes perlahan di atas buku catatannya.

“Lalu, mengapa banyak yang menjadikan cinta itu luka, Guru?”

Guru mengangkat wajahnya ke langit, menatap burung-burung yang kembali ke sarang. “Karena manusia sering lupa,” katanya, “bahwa cinta bukan perasaan, tapi keseimbangan. Yang satu memberi arah, yang lain memberi makna. Yang satu menegakkan rumah, yang lain menyalakan lampunya.”

Safira tersenyum. Di matanya, ada cahaya kecil — bukan dari luar, tapi dari dalam dirinya sendiri. Ia menyadari sesuatu yang sederhana namun besar: bahwa menjadi perempuan bukan berarti menjadi di bawah atau di samping, tetapi menjadi cahaya di antara dua napas yang bersatu — napas Tuhan dan napas manusia.

Guru menatap muridnya yang kini menulis dengan tenang. Di sela-sela bait kata yang ditulisnya, ia melihat bayangan masa depan — bahwa Safira tidak lagi sekadar murid, melainkan pantulan dari kebijaksanaan yang dulu ia tanam dengan doa.

Dan malam itu, ketika bintang mulai bermunculan satu per satu, Safira menutup bukunya, lalu berkata dengan suara lembut, “Terima kasih, Guru. Kini aku tahu… aku tidak diciptakan untuk dimiliki, tapi untuk menyinari.”

Guru hanya tersenyum.

Ia tahu, muridnya telah menemukan dirinya — dan cahaya yang lahir dari pemahaman itulah yang akan menuntun dunia kecil di sekelilingnya. 🌙

💫 Renungan Penutup: Cinta yang Menegakkan, Bukan Menundukkan

Ketika Tuhan meniupkan ruh-Nya ke dalam diri manusia, Ia membagi keindahan itu menjadi dua wujud agar dunia tidak pincang: yang satu menegakkan langkah, yang lain menegakkan rasa. Dan dari keseimbangan keduanya, lahirlah kehidupan yang utuh. Laki-laki dan perempuan bukan dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua lentera yang saling memantulkan cahaya. Tanpa yang satu, dunia menjadi gelap; tanpa yang lain, dunia kehilangan arah. Cinta sejati tidak butuh pengakuan atau penguasaan. Cinta yang benar justru menegakkan keduanya dalam keutuhan. Sebab, ketika seseorang mencintai dengan benar, ia tidak berkata, “Aku mencintaimu karena engkau milikku,” tetapi, “Aku mencintaimu agar kita berdua bisa pulang ke-Zat Pemilik Cinta dengan cahaya yang sama.” Maka, cinta yang bersumber dari rahmat tidak menundukkan dan tidak ditundukkan, tetapi berjalan beriring — sebagaimana dua sayap burung yang terbang menuju langit Tuhan. #Lukmansthahir &Safira..

Bersambung Ke Bagian 5…………..

 

Bagikan post ini