Opini-Perpustakaan dan Arah Baru PTKIN Berbasis Literasi Digital

Penulis: Dr. Mohammad Djamil. M. Nur, M.PFis

Perpustakaan kampus selama puluhan tahun menjadi barometer akademik dan pusat rujukan ilmu di perguruan tinggi. Namun, seiring percepatan transformasi digital dan tuntutan era pendidikan 5.0, perpustakaan tidak lagi cukup diselenggarakan sebagai ruang fisik semata.

Di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seperti UIN Datokarama Palu, perpustakaan kini menghadapi tantangan strategis untuk bertransformasi menjadi entitas yang relevan dalam konteks literasi digital, sekaligus penopang utama daya saing akademik.

Transformasi ini bukan sekadar pengadaan koleksi digital atau fasilitas daring, melainkan pergeseran paradigma layanan dan keterlibatan pengguna. Literasi digital menuntut mahasiswa untuk tidak hanya mengakses informasi, tetapi juga mengolah, menilai, dan menghasilkan pengetahuan secara kreatif dan kritis. Dengan demikian, perpustakaan kampus harus berperan sebagai ruang pembelajaran yang memfasilitasi literasi informasi dan keterampilan digital yang menjadi kompetensi inti lulusan PTKIN.

Dalam implementasinya, perpustakaan digital di PTKIN perlu mengintegrasikan teknologi informasi dan basis data ilmiah yang relevan dengan kebutuhan akademik berbasis kurikulum. Misalnya, penyediaan akses ke jurnal internasional bereputasi, e-book mutakhir, platform kursus daring, serta pengembangan knowledge hub yang memperkuat sinergi antara kajian Islam dan disiplin ilmu kontemporer. Langkah ini tidak hanya mendukung kegiatan belajar mengajar, tetapi juga mendorong lahirnya produktivitas riset mahasiswa dan dosen dalam ranah global.

Selain itu, arah baru perpustakaan berbasis literasi digital menuntut peningkatan kualitas layanan sumber daya manusia perpustakaan. Pustakawan harus bertransformasi menjadi fasilitator literasi digital, mampu membimbing mahasiswa dalam menavigasi sumber informasi, mengembangkan kemampuan evaluasi sumber ilmiah, serta memanfaatkan perangkat digital secara etis dan efektif. Perubahan peran ini krusial agar perpustakaan tetap relevan di tengah dinamika pembelajaran modern.

Tidak kalah penting, budaya literasi digital harus digaungkan secara menyeluruh di lingkungan kampus melalui kolaborasi lintas unit. Kegiatan seperti digital literacy bootcamp, research writing workshop, dan kompetisi ide kreatif berbasis sumber daya perpustakaan dapat menjadi instrumen efektif untuk menumbuhkan minat baca dan eksplorasi ilmiah mahasiswa.

Dengan demikian, perpustakaan kampus bukan sekadar gudang buku ataupun arsip digital, melainkan jantung intelektual yang memompa literasi digital ke seluruh sivitas akademika PTKIN. Arah baru ini sejalan dengan amanah pendidikan tinggi yang melahirkan generasi cerdas, adaptif, dan siap bersaing secara global tanpa mengesampingkan nilai-nilai keislaman yang menjadi landasan PTKIN. Literasi digital bukan lagi sekadar opsi, ia adalah kebutuhan mendesak yang harus direspon secara strategis oleh perpustakaan kampus di era transformasi pendidikan saat ini.***

Bagikan post ini