Opini-Ketupat, Keluarga, dan Luka yang Tersembunyi di Balik Pertanyaan Lebaran

Oleh : Dr Kamridah

Lebaran seharusnya menjadi momen paling hangat dalam kalender sosial kita. Meja makan penuh hidangan, pelukan yang lama tertunda, dan tawa anak-anak yang berlarian di halaman rumah. Tapi di antara semua keindahan itu, ada ritual lain yang berlangsung hampir di setiap ruang tamu Indonesia — sebuah ritual yang, tanpa kita sadari, meninggalkan luka.

“Kapan nikah?”“Kok masih kurus, kurang makan ya?”“Kerja di mana sekarang? Gajinya berapa?”“Kapan punya anak lagi? Kasihan si kakak, sendirian terus.”

Pertanyaan-pertanyaan ini meluncur begitu saja dari bibir paman, bibi, tetangga lama, atau kenalan jauh yang bahkan namanya nyaris terlupa. Disampaikan dengan senyuman. Kadang disertai tawa. Dan karena diucapkan dalam suasana silaturahmi — ruang yang dianggap sakral, penuh kasih sayang — maka tidak ada yang berani menyebutnya sebagai apa yang sesungguhnya ia adalah: kekerasan sosial halus.

Ketika Kepedulian Menjadi Kontrol

Sosiolog menyebut fenomena ini sebagai microaggression — agresi kecil yang tidak kentara, tidak diniatkan sebagai serangan, namun tetap berdampak nyata pada kesehatan psikologis penerimanya. Dalam konteks budaya kita, microaggression Lebaran memiliki ciri khasnya sendiri: ia dibungkus oleh norma kepedulian keluarga besar (extended family), dilegitimasi oleh hierarki usia, dan dilindungi oleh suasana perayaan yang membuat korban sulit untuk merespons.

Seorang perempuan berusia 29 tahun yang belum menikah harus menjawab pertanyaan yang sama dari dua belas orang berbeda dalam satu hari. Seorang pria yang baru saja kehilangan pekerjaan dipaksa tersenyum saat ditanya soal karier dan penghasilan. Sepasang suami istri yang tengah menjalani program kehamilan harus menjelaskan kondisi tubuh mereka kepada orang-orang yang sebenarnya tidak punya hak untuk tahu.

Yang membuat situasi ini semakin berat adalah ketidakmampuan untuk membela diri. Melawan berarti dianggap tidak sopan. Diam berarti menyetujui. Dan di tengah budaya yang mengharuskan yang muda menghormati yang tua tanpa syarat, tidak ada ruang aman untuk berkata, “Pertanyaan itu menyakiti saya.”

Akar Masalah: Ketika Ukuran Hidup Diseragamkan

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan muncul dari kekosongan. Mereka adalah produk dari cara kita — sebagai masyarakat — memandang kehidupan yang normal dan berhasil: lulus kuliah, kerja tetap, menikah, punya anak, beli rumah, naik jabatan. Urutan ini dianggap universal. Siapa pun yang menyimpang dari urutan tersebut — entah karena pilihan, keadaan, atau takdir — otomatis menjadi objek pertanyaan, perhatian, bahkan kekhawatiran kolektif.

Ironisnya, si penanya seringkali tidak bermaksud jahat. Mereka benar-benar percaya bahwa mereka sedang menunjukkan perhatian. Dalam benak mereka, menanyakan kabar menantu atau cucu adalah bagian dari peran mereka sebagai keluarga besar yang peduli.

Di sinilah akar masalahnya: kita belum pernah diajarkan bahwa kepedulian yang tidak menghormati batas pribadi bukanlah kepedulian — melainkan kontrol yang dibalut kasih sayang.

Lebaran dan Beban Performa

Ada dimensi lain yang perlu kita bicarakan: Lebaran telah menjadi ajang performa sosial. Baju baru, rumah yang bersih, mobil yang parkir di depan, pasangan yang hadir, anak yang lucu dan pandai — semua ini menjadi properti pementasan di atas panggung keluarga besar.

Mereka yang tidak memiliki “properti” yang diharapkan — yang datang sendiri, yang tidak bisa pulang karena alasan ekonomi, yang hadir dengan luka yang belum sembuh — terpaksa memainkan peran bahwa semua baik-baik saja. Karena Lebaran bukan tempatnya bersedih. Bukan tempatnya jujur.

Akibatnya, justru di hari yang seharusnya paling membebaskan, banyak orang malah merasa paling terkurung.

Saatnya Kita Mengubah Cara Bertanya

Bukan berarti kita harus berhenti peduli. Justru sebaliknya — kita perlu belajar cara peduli yang lebih baik, lebih manusiawi, lebih menghormati.

Alih-alih bertanya “Kapan nikah?”, coba tanyakan “Apa yang sedang kamu nikmati akhir-akhir ini?” Alih-alih “Gajinya sudah naik belum?”, coba “Kamu bahagia dengan pekerjaanmu sekarang?” Alih-alih “Kok kelihatan capek?”, coba “Ada yang bisa aku bantu?”

Perbedaannya bukan hanya pada kata-kata. Perbedaannya ada pada asumsi di baliknya: pertanyaan pertama mengukur seseorang dengan standar kita; pertanyaan kedua memberi ruang bagi mereka untuk menjadi diri sendiri.

Silaturahmi yang sejati bukan tentang memverifikasi apakah seseorang sudah memenuhi checklist kehidupan yang kita sepakati. Silaturahmi adalah tentang hadir, mendengar, dan menerima — tanpa syarat.

Penutup: Maaf yang Sesungguhnya

Kita selalu memulai Lebaran dengan ucapan mohon maaf lahir dan batin. Tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar merefleksikan: adakah cara kita bertanya selama ini telah menyakiti seseorang?

Jika Lebaran adalah tentang memperbaiki hubungan dan memperbarui jiwa, maka mungkin langkah pertama yang paling nyata bukan sekadar bertukar amplop atau bersalaman — melainkan berjanji untuk tidak lagi menjadikan meja makan keluarga sebagai ruang sidang bagi pilihan hidup orang lain.

Karena kasih sayang yang paling tulus adalah kasih sayang yang tidak perlu membuktikan dirinya dengan cara menghakimi.

Selamat Lebaran. Semoga kita semua pulang — tidak hanya ke kampung halaman, tetapi juga ke versi diri kita yang lebih baik.

Bagikan post ini