Kisah Inspiratif Fitra Ramadhani: Mahasiswi UIN Datokarama yang Bangkit dari Keraguan Menjadi Wirausahawati Sukses

Palu (UIN Datokarama) – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, ada seorang mahasiswi yang tak hanya mengejar ilmu, tapi juga membangun mimpi melalui keringat dan ketekunan. Fitra Ramadhani, mahasiswi semester dua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), telah menjadi teladan bagi banyak rekan sejawatnya. Dengan menjual es lilin, nasi kuning, dan keripik pisang buatan sendiri, Fitra tak hanya mencukupi kebutuhan sehari-hari, tapi juga membuktikan bahwa perempuan muda bisa mandiri dan sukses, meski dihadapkan pada pandangan skeptis masyarakat.

Kisah Fitra dimulai dari latar belakang sederhana di Kota Palu. Lahir dan besar di lingkungan yang menjunjung nilai-nilai keluarga, Fitra selalu terinspirasi oleh orang tuanya yang bekerja keras demi masa depan anak-anaknya. Namun, sebagai anak bungsu, Fitra pernah merasa terlindungi secara berlebihan, yang membuatnya tumbuh menjadi pribadi pemalu.

“Dulu, saya bahkan takut berbicara dengan orang asing. Saya lebih suka diam di pojok kelas, menghindari interaksi yang tak perlu,” cerita Fitra saat ditemui di kampus UIN Datokarama Palu, Jumat (16 Februari 2026).

Semuanya berubah ketika Fitra memasuki bangku kuliah. Di FDKI, yang dikenal dengan kurikulumnya yang mengintegrasikan ilmu dakwah dengan komunikasi modern, Fitra mulai merasakan panggilan untuk lebih aktif. Ia sadar bahwa ilmu yang dipelajarinya seperti penyiaran Islam dan komunikasi interpersonal bukan hanya teori, tapi juga praktik yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya ingin sukses, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk membahagiakan orang tua. Mereka sudah banyak berkorban, dan saya ingin balas budi dengan cara saya sendiri,” ujarnya dengan mata berbinar.

Motivasi itu mendorong Fitra untuk melangkah keluar dari zona nyamannya. Ia mulai berwirausaha kecil-kecilan, memanfaatkan keterampilan memasak yang dipelajari dari ibunya. Produk pertamanya adalah es lilin rasa buah segar, yang ia buat di rumah setiap pagi sebelum berangkat kuliah. Tak lama kemudian, ia menambahkan nasi kuning khas Palu dengan lauk sederhana, serta keripik pisang renyah yang menjadi favorit pelanggannya.

“Saya mulai dari nol. Modal awal dari tabungan saku, dan resep dari keluarga. Awalnya, saya jual ke teman-teman di kampus,” kenang Fitra.

Jadwal Fitra pun padat. Pagi hingga siang, ia mengikuti perkuliahan di gedung FDKI, mendalami mata kuliah seperti Etika Komunikasi Islam dan Teknik Penyiaran. Di sela-sela waktu istirahat, ia menyempatkan diri memasarkan produknya melalui media sosial dan grup WhatsApp mahasiswa. Malam hari, ketika matahari telah terbenam, Fitra berpindah ke Ruang Terbuka Hijau (RTH) di pusat Kota Palu. Di sana, di bawah cahaya lampu jalanan, ia membuka lapak kecilnya.

“RTH jadi tempat favorit karena ramai pengunjung, terutama keluarga dan anak muda yang mencari camilan malam. Saya biasanya jualan sampai pukul 10 malam, sambil belajar materi kuliah di antara pembeli,” tutur Fitra.

Namun, perjalanan Fitra tak selalu mulus. Di awal usahanya, ia kerap menghadapi cibiran dan keraguan dari sekitar. Beberapa orang, termasuk temannya, meremehkan inisiatifnya dengan pandangan patriarkal yang masih melekat di masyarakat.

“Banyak yang bilang, ‘Perempuan tidak perlu bekerja keras, biar laki-laki saja.’ Atau, ‘Kamu kan mahasiswi, fokus kuliah dulu.’ Saya juga pernah dikucilkan di kelas karena dianggap terlalu sibuk dengan jualan,” ungkap Fitra dengan suara tegar.

Keraguan itu tak hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam dirinya sendiri. Sebagai pemalu, berinteraksi dengan pembeli asing adalah tantangan besar. “Awalnya, tangan saya gemetar saat menawarkan barang. Tapi saya ingat, dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW sendiri adalah pedagang yang sukses. Itu yang jadi pegangan saya.”

Fitra tak patah semangat. Ia yakin bahwa sukses bukan milik mereka yang diam, tapi bagi yang berani bergerak. “Saya yakin sukses itu dimiliki oleh orang yang tidak malu untuk bergerak. Setiap kali ragu, saya ingat orang tua di rumah yang selalu doakan saya,” katanya.

Dukungan dari dosen-dosen di FDKI juga menjadi penyemangat. Dekan FDKI sekaligus dosen pembimbingnya, Dr. Adam, M.Pd., M.Si., sering memberikan nasihat tentang bagaimana mengintegrasikan nilai dakwah dalam usaha.

“Fitra adalah contoh mahasiswi yang menerapkan ilmu komunikasi secara nyata. Ia tak hanya bicara, tapi bertindak. Ini sejalan dengan harapan kuliah di UIN Datokarama Palu untuk mencetak generasi yang mandiri dan bermanfaat bagi umat,” ujar Dr. Adam.

Seiring waktu, usaha Fitra mulai berkembang. Dari penjualan harian yang hanya puluhan ribu rupiah, kini ia bisa meraup untung yang cukup untuk membiayai kuliah dan membantu keluarga. Produknya bahkan mulai dikenal di kalangan mahasiswa UIN lainnya, termasuk dari fakultas-fakultas lain seperti Ushuluddin dan Syariah. Fitra juga mulai bereksperimen dengan branding Islami, seperti memberikan pesan dakwah sederhana di kemasan produknya, misalnya, kutipan hadis tentang keberkahan rezeki halal.

“Ini cara saya dakwah melalui usaha. Komunikasi bukan hanya di mimbar, tapi juga di pasar,” jelasnya.

Kisah Fitra Ramadhani bukan hanya tentang kesuksesan bisnis, tapi juga transformasi diri. Dari gadis pemalu menjadi wirausahawati percaya diri, ia telah menginspirasi banyak mahasiswi di UIN Datokarama Palu. Di tengah tantangan ekonomi pasca-pandemi dan bencana alam yang pernah melanda Sulawesi Tengah, cerita Fitra mengingatkan kita pada nilai ketabahan dan tawakal dalam Islam.

“Saya ingin bilang ke teman-teman: Jangan takut gagal. Mulai saja dari kecil, dan biarkan Allah yang atur sisanya,” pesan Fitra.

UIN Datokarama Palu, sebagai institusi pendidikan Islam terkemuka di wilayah Timur Indonesia, bangga memiliki mahasiswi seperti Fitra. Kisahnya menjadi bukti bahwa pendidikan dakwah tak hanya membentuk pemikir, tapi juga pelaku perubahan. Bagi para mahasiswa yang sedang mencari inspirasi, Fitra adalah contoh nyata: Dengan iman, ilmu, dan aksi, mimpi bisa diraih. Siapa tahu, es lilin atau nasi kuning dari tangan Fitra bisa menjadi awal dari cerita sukses Anda sendiri.

Bagikan post ini