Survei Kemenag ini mencakup dua aspek, IKM Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dan IKM Non-PTKI, yang mencakup mahasiswa beragama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.
Survei IKM PTKI menggunakan _Cluster Random Sampling_ sebagai teknik penarikan sampel serta wawancara tatap muka sebagai metode pengumpulan data. Jumlah responden mencapai 1.200 mahasiswa PTKI negeri dan swasta yang tersebar di 29 provinsi di Indonesia, dengan margin of error sebesar 2,8 persen.

“Secara nasional, IKM PTKI meraih predikat “Sangat Tinggi” dengan skor 88,40. Dimensi ideologis mencatat nilai tertinggi sebesar 94,15, disusul dimensi pengalaman (94,09), perilaku (88,88), intelektual (85,68), dan dimensi ritualistik sebagai nilai terendah dengan skor 82,88,” terang Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan BMBPSDM, Rohmat Mulyana Sapdi.
Survei Indeks Keberagamaan Mahasiswa (IKM) Non-PTKI dilaksanakan melalui pengisian kuesioner sebagai metode pengumpulan data dengan melibatkan 1.539 responden, yang seluruhnya merupakan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen (396), Katolik (382), Hindu (400), dan Buddha (361). Margin of error indeks ini sebesar 5 persen untuk masing-masing indeks agama.
Menurut Rohmat, secara umum, IKM Non-PTKI berada pada kategori “Sangat Tinggi”. Pertama, mahasiswa Kristen memperoleh skor nasional 89,75, dengan dimensi ideologis 93,99, ritualistik 84,91, pengalaman spiritual 92,40, intelektual 88,53, dan perilaku 89,27. Kedua, mahasiswa Katolik memperoleh skor nasional 88,27, dengan dimensi ideologis 91,74, ritualistik 80,92, pengalaman spiritual 91,68, intelektual 87,18, dan perilaku 89,25.
Ketiga, mahasiswa Hindu memperoleh skor nasional 82,54, dengan dimensi ideologis 88,92, ritualistik 72,21, pengalaman spiritual 86,26, intelektual 77,95, dan perilaku 87,07. Keempat, mahasiswa Buddha memperoleh skor nasional 82,56, dengan dimensi ideologis 88,95, ritualistik 72,19, pengalaman spiritual 86,28, intelektual 77,97, dan perilaku 87,10.

Rahmat menambahkan, mahasiswa sebagai generasi muda intelektual memiliki peran strategis dalam mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara melalui berbagai kontribusi positif, termasuk dalam aspek keberagamaan sebagai bagian esensial kehidupan individu. Perkembangan teknologi digital, termasuk kehadiran Artificial Intelligence (AI), menghadirkan tantangan tersendiri bagi keberagamaan generasi muda, termasuk mahasiswa.
Pergeseran pola pencarian informasi keagamaan yang kini semakin mudah diakses dinilai perlu menjadi perhatian serius agar kualitas keberagamaan mahasiswa tetap terjaga. “Ada hal yang dinamis dan diperbarui mengikuti perkembangan zaman, tapi di sisi lain agama juga ada ultimate meaning-nya, ada sesuatu yang harus dikonservasi, harus dipelihara oleh kita. Jadi ada nilai-nilai yang sebenarnya itu mutlak dan tidak bisa diubah,” jelasnya.
Kapus Rohmat menekankan pentingnya sinergi berbagai pihak agar pendidikan agama di Indonesia terus berjalan dalam koridor yang berkualitas. “Kita harus tetap mengedepankan bahwa pendidikan agama ini suatu hal yang sangat esensial dan upaya-upaya untuk melakukan perbaikan pendidikan agama harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan seluruh pihak,” ungkapnya.
Sumber: Menag RI




