Opini-Menjemput Ilmu di Ruang Sunyi

Penulis : Dr. Mohammad Djamil M. Nur, M.PFis

Perpustakaan seringkali dipandang sebagai ruang sunyi yang terpencil dari hiruk-pikuk kampus. Rak-rak buku yang tersusun rapi menjadi saksi bisu perjalanan ilmu pengetahuan, namun keberadaannya sering terlupakan oleh ritme aktivitas akademik yang serba cepat.

Padahal, di balik keheningan itulah sumber ilmu yang hakiki menunggu untuk dijemput, bukan hanya dibaca, tetapi juga direnungkan dan dikembangkan.

Dalam dinamika pendidikan tinggi saat ini, buku dan perpustakaan memiliki peran yang tetap fundamental, meskipun kontekstualnya telah berubah. Buku bukan lagi sekadar kumpulan halaman yang harus diselesaikan jumlah halamannya, melainkan medium yang menghubungkan gagasan masa lalu dengan tantangacn masa depan. Perpustakaan, sebagai rumah buku, bukan sekadar gudang bacaan tetapi laboratorium pemikiran tempat di mana ide-ide dikorelasikan, dikritisi, dan diolah menjadi kreasi atau solusi baru.

Namun kenyataannya, ruang sunyi perpustakaan sering kali hanya dikunjungi ketika tenggat tugas atau ujian mendekat. Ilmu seakan menjadi aktivitas episodik, bukan kebiasaan. Padahal, menjemput ilmu tidak cukup dilakukan secara sporadis. Ilmu sejati membutuhkan kesadaran untuk datang dan kembali lagi ke ruang sunyi itu, untuk berdialog dengan teks, memperluas cakrawala berpikir, dan memupuk budaya literasi yang berakar kuat dalam kehidupan akademik.

Perpustakaan modern juga telah berubah wujud dan fungsinya. Di era digital, akses terhadap informasi dan literatur tidak lagi terikat pada formulir peminjaman atau jam buka perpustakaan. Koleksi digital, jurnal internasional, basis data tematik, dan arsip ilmiah daring menjadikan perpustakaan sebagai “ruang hibrida” antara fisik dan virtual. Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mahasiswa dan civitas akademika mampu memanfaatkan potensi perpustakaan digital sekaligus menjaga keterlibatan aktif dengan literatur tradisional yang tak kalah pentingnya.

Selain itu, peran pengelola perpustakaan semakin strategis dalam mentransformasikan pengalaman membaca menjadi keterampilan literasi kritis. Pustakawan masa kini bukan lagi sekadar penjaga buku, tetapi fasilitator pembelajaran: membimbing pencarian sumber yang valid, membantu penggunaan perangkat literasi digital, serta memetakan jalur riset yang memadai bagi kebutuhan akademik dan keilmuan yang lebih tinggi.

Menjemput ilmu di ruang sunyi berarti menyadari bahwa perpustakaan adalah refleksi komitmen sebuah institusi terhadap mutu pendidikan. Ketika perpustakaan hidup, dihuni gagasan, diskusi, dan riset. Maka budaya akademik turut tumbuh. Ruang sunyi itu menjadi ruang produktif, di mana suara pemikiran muncul tidak dari kebisingan, tetapi dari kedalaman setiap halaman yang dibaca dan setiap pikiran yang diolah.

Oleh karena itu, menumbuhkan kembali kecintaan terhadap buku dan perpustakaan bukan sekadar tugas pustakawan atau dosen, tetapi tanggung jawab bersama sivitas akademika. Perpustakaan akan kembali menjadi jantung intelektual kampus ketika setiap individu hadir bukan sekadar sebagai pengunjung sesaat, tetapi sebagai pencari ilmu yang tekun dan reflektif.

Menjemput ilmu di ruang sunyi sesungguhnya adalah praktik kesadaran: hadir, membaca, merenung, dan kemudian melangkah keluar dengan kerangka berpikir yang lebih tajam. Dalam kesunyian itu, ilmu tidak hanya ditemukan, tetapi dihidupi.***

Tentang Penulis: Dr. Mohammad Djamil M. Nur, M.PFis merupakan dosen tetap UIN Datokarama berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). Saat ini Dr.M Djamil menjabat sebagai Kepala UPT Perpustakaan, juga sebagai Sekretaris UPZ UIN Datokarama.

Bagikan post ini