Opini-Informasi Sebagai Amanah Di Era Konektivitas

Penulis: Dr Kamridah

“Di era digital yang serba terhubung ini, setiap detik jutaan informasi beredar melalui berbagai platform media sosial. Dari berita politik, isu Kesehatan, hingga kabar pribadi_semuanya bergerak dengan kecepatan cahaya di ujung jari kita”.

Di balik kemudahan akses informasi ini, tersimpan sebuah pertanyaan fundamental: apakah kita menyadari bahwa setiap informasi yang kita terima dan sebarkan adalah sebuah Amanah?

Amanah Dalam Perspektif Alquran

Allah swt berfirman dalam surah an-Nisa ayat 58: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan Amanah kepada yang berhak menerimanya”. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang Amanah dalam bentuk fisik, tetapi juga mencakup Amanah informasi_sesuatu yang sangat relevan di zaman kita.

Ketika kita menerima sebuah informasi, baik melalui WhatApp, twiter, facebook, atau platform digital lainnya, kita sebenarnya tengah menerima sebuah Amanah. Amanah untuk memverifikasi kebenarannya sebelum menyebarkannya. Amanah untuk tidak menjadi bagian dari rantai hoaks yang dapat merugikan orang lain. Amanah untuk menggunakan informasi tersebut dengan bijaksana dan bertanggung jawab.

Tabayyun: Kewajiban Verifikasi informasi

Alquran memberikan panduan yang sangat jelas tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi informasi. Dalam surah al-Hujurat ayat 6, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Konsep tabayyun (klarifikasi) dalam ayat ini menjadi landasan etika digital yang seharusnya dipraktikkan setiap Muslim di era konektivitas. Sebelum menekan tombol “share” atau “forward”, kita wajib melakukan verifikasi: apakah sumbernya kredibel? Apakah faktanya akurat? Apakah penyebarannya akan membawa manfaat atau justru mudarat?

Sayangnya, budaya “klik tanpa pikir” masih sangat dominan. Kita terlalu mudah terprovokasi oleh judul sensasional, terlalu cepat mempercayai narasi yang sesuai dengan bias kita, dan terlalu gegabah dalam menyebarkan informasi tanpa verifikasi memadai. Akibatnya, hoaks, fitnah, dan disinformasi menyebar lebih cepat daripada kebenaran itu sendiri.

Media Sosial: Arena Ujian Akhlak Digital

Era Konektivitas telah mengubah media sosial menjadi ruang publik baru yang sangat luas. Di ruang ini, akhlak kita diuji setiap hari. Apakah kita menggunakan platform digital untuk menyebarkan kebaikan atau justru menyebarkan kebencian? Apakah kita menjadi sumber pencerahan atau justru sumber kegaduhan?

Dalam surah al-Israh ayat 36, Allah mengingatkan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesugguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa di akhirat kelak, kita akan diminta pertanggungjawaban atas setiap informasi yang kita konsumsi dan sebarkan. Setiap komen negative yang kita tulis, setiap berita bohong yang kita forward, setap ujaran kebencian yang kita amplikafikasi_semuanya akan menjadi saksi bagi atau melawan kita.

Tanggung Jawab Kolektif di Dunia Maya

Konektivitas digital bukan hanya menciptakan peluang, tetapi juga tanggung jawab kolektif. Kita semua adalah penjaga gerbang informasi (gatekeeper). Ketika kita memilih untuk menyebarkan hoaks, kita telah memutus rantai kebohongan. Ketika kita menyebarkan informasi yang terverifikasi dan bermanfaat, kita telah menjadi bagian dari solusi, bukan masalah.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim). Hadis ini memberikan filter sederhana namun powerfull: jika informasi yang akan kita bagikan tidak baik atau tidak jelas kebenarannya, lebih baik kita memilih diam.

Membangun Ekosistem Digital yang sehat

Untuk mewujudkan ekosistem digital yang sehat, kita memerlukan perubahan mindset dan praktik. Pertama, literasi digital harus ditingkatkan. Kita perlu belajar cara memverifikasi informasi, mengenali tanda-tanda hoaks, dan memahami mekanisme algoritma yang sering kali mengurung kita dalam echo chamber.

Kedua, kita harus memperkuat empati digital. Di balik setiap akun media sosial, ada manusia dengan perasaan, keluarga, dan kehidupan nyata. Sebelum berkomentar atau membagikan sesuatu tentang orang lain, tanyakan pada diri sendiri: apakah saya ingin diperlakukan dengan cara yang sama?

Ketiga, kita perlu mengaktifkan control diri spiritual. Ingat bahwa Allah Maha melihat , bahkan di ruang digital yang terasa anonym. Konsep muraqabah (kesadaran akan pengawasan Allah) harus menjadi rem etis dalam setiap aktivitas digital kita.

Dari Konektivitas Menuju Keberkahan

Era konektivitas adalah anugrah yang luar biasa, tetapi seperti semua anugerah, ia datang dengan tanggung jawab. Informai adalah Amanah digital yang harus kita jaga dengan penuh kehati-hatian. Ketika kita memperlakukan informasi sebagai Amanah, kita tidak hanya melindungi diri kita sendiri dari dosa, tetapi juga berkontribusi pada terciptanya masyarakat digital yang lebih beradab dan bermanfaat.

Mari kita jadikan setiap klik, setiap share, dan setiap komen kita sebagai ibadah. Karena pada akhirnya, jejak digital kita adalah bagian dari warisan spiritual yang akan kita tinggalkan. Dan seperti yang Allah firmankan dalam surah Yasin ayat 12: “Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata.”

 

Bagikan post ini